Jumat, 15 Maret 2013

PENGALAMAN PRIBADI WAKTU KECIL




                Waktu saya kecil yang ada difikiran saya hanyalah libur dan bermain bersama saudara dan keluarga saya. Dan pada saat liburan kenaikan kelas saya dan seluruh keluarga saya berlibur ke rumah saya yang di Sentul City. Berhubung saat itu ada liburan kenaikan kelas maka jalanan pun macet. Disitu saya merasa bosan maka saya putuskan untuk bermain PSP dan ngemil. Setelah menempuh perjalanan 2 jam saya akhirnya sampai di Sentul.

                Sesampainya disentul saya beristirahat sejenak lalu saya mandi sore dan makan sore. Kemudian saya dan keluarga pergi ke pasar swalayan untuk membeli jagung dan ikan untuk acara barberque. Sampailah dirumah jam 8 malam, lalu mamah dan tante – tante saya menyiapkan bumbu untuk jagung dan ikan yang akan dibakar, Om saya dan Ayah saya menyiapkan panggangan yang akan digunakan untuk membakar jagung dan ikan. Dan tepat jam 12 malam kami pun memulai acara barberquenya. Lalu saya tidur supaya esok harinya saya siap pergi jalan jalan lagi.

                Keesokan harinya saya mandi kemudian sarapan. Selesai itu saya bermain sepeda dengan saudara saya. Tidak lama saya bermain sepeda Mamah saya meminta tolong untuk membeli telur di mini market dekat rumah. Saya dan adik sepupu saya pun menuju warung dengan menggunakan sepeda, sepeda itu dikendarai oleh adik sepupu saya dan saya duduk dibelakang. Pas dijalan pulang saya terpeleset dari sepeda, kemudian saya terjatuh dan lutut saya luka cukup parah. Saya menangis dan adik sepupu saya kebingungan, kemudia dia memanggi orang tua saya dan lalu saya diobati. Sampai sekarang bekas dari luka itu masih membekas, setiap saya melihat luka itu selalu teringat pengalaman waktu kecil.

Rabu, 09 Januari 2013

Pengetahuan Tani


 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjR9VTVZ8O3lY3r8TYozSRUKDCzH7WrNXSYb2kaPsCq7t781YXmarsX_lAYNIqBxd3stjRsGoNp5QienNilOCnTanCVGQXSLnPJQ7pweqwpWZm9Ro34VBRV2xQCVsv1eE6EtodtnfZ7bSk/s1600/petani-di-sawah.jpg
Sebenarnya banyak petani memiliki kemampuan untuk memproduksi benih unggul. Petani secara tradisional memiliki kemampuan yang didapatkan turun menurun. “Persoalannya, pengetahuan meraka tidak tertulis dan hanya ada dalam ingatan mereka. Mengapa pemerintah tidak mendampingi mereka untuk mencatat pengetahuan mereka. Dengan demikian, mereka akan bisa bersaing , “ katanya.

Masalahnya, Indonesia telah terikat dengan kesepakatan – kesepakatan dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sehingga melahirkan Undang – Undang Varietas Makanan. “Semua jenis benih harus di daftarkan, ada patenya, “ ujar Tejo. “Pemerintah tidak terlalu tertarik dengan petani yang jumlahnya sangat banyak.” Sebaiknya, semua hasil percobaan dikerjasamakan dengan perusahaan.

Cerita KPK


 
Mengedepankan tujuan teknis, mengalahkan kepentingan strategis itulah padanan yang tepat menurut hemat harian ini, menyimak situasi terkini dinamika hubungan antara kepolisian Republik Indonesia dan Komisi Pemberantasaan Korupsi (KPK).

Persepsi terhadap institusi polisi semakin marak, lantaran semata – mata mengejar pencapaian teknis, tetapi juga kepentingan strategi yang lebih luas. Ini akibat berbagai terminologi yang digunakan media, seperti “penyerbuan” atau “penjemputan paksa” terhadap salah satu penyidik KPK Novel Baswedan, di gedung KPK pada jum’at malam. Penjeputan itu dilakukan karna kepolisian menuduh novel terlibat kasus hukum saat bertugas bagai perwira polisi di Bengkulu beberapa tahun silam.

Maka dari itu berantaslah semua koruptor yang merugikan negara ini dan hukumlah seberat – beratnya karna mereka memakan uang rakyat.

MACET


                      https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTOnVO99lU5xDF0cmkKVLLeH_TPIUdszJ1l444j1WjMvP01qhX5

                      Pada hari Rabu tepatnya tanggal 21 Februari 2012 saya pergi ke daerah Puncak, Jawa Barat. Saya mengendarai mobil dari jakarta sampai Puncak dengan hati – hati karena jalan licin habis hujan. Sampai di tol Jagorawi jalan sangat padat. Saya merasa lelah menunggu macet yang tak kunjung selesai. Saya terkena macet sudah sampai 1 jam lebih.
                Ternyata macetnya disebabkan adanya kecelakaan antara Bus pariwisata dengan minibus. Kecelakaan tersebut memakan korban yang meninggal 19 dan luka parah 20 orang. Setelah saya melewati kecelakaan tersebut akhirnya jalan lancar. Dan saya akhirnya sampai di Puncak dengan selamat dan bahagia.

BIOGRAFI EMHA AINUN NADJIB


 https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSBepRwRxUdZ6UO6quFyJJLR5fJ2OaheB2jCQ9SqawDnl3-DmpB
                      Muhammad Ainun Nadjib atau yang biasa dikenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Ayahnya, Almarhum MA Lathif, adalah seorang petani. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP Muhammadiyah di Jogjakarta (1968). Sempat masuk pondok modern Gontor Ponorogo tapi kemudian dikeluarkan karena melakukan demo melawan pemerintah pada pertengahn tahun tiga studinya. Kemudian pindah ke SMA Muhammadiyah I, Jogjakarta sampai tamat. Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM).
                
 Lima tahun hidup menggelandang di Malioboro, Jogjakarta antara 1970-1975 ketika belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat mempengaruhi perjalanan Emha. Selain itu, ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980), International Writing Progam di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), festival penyair international Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).

BANJIR DIJAKARTA


https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ03e5xrameEi-2TeM-3qyQcX8PIvpOsQ-LCP172BEDkQNbONbN
Beberapa waktu yang lalu banjir besar melanda Jakarta. Ribuan rumah tenggelam. Kerugian mencapai 39,5 miliyar rupiah dan menelan korban 10 orang meniggal. Seorang penduduk diluar Jakarta menyurati redaksi sebuah surat kabar. Surat tersebut pernyataan sikap terhadap kondisi Jakarta. Memurutnya, Jakarta ternyata tidak seperti kota metropolitan yang selama ini terlihat megah dalam sinetron.

Orang Jakarta mengatakan bahwa banjir melanda Jakarta karna kiriman dari Bogor, sedangkan orang Bogor membantahnya. Mereka mengatakan bahwa yang membuat kerusakan adalah orang jakarta sendiri dengan menggusur petani dan membuat vila dan hotel di Puncak.